Sabtu, 03 Oktober 2015

“KELAS” Ulasan Inspiratif, Perjalanan Akademi Berbagi

Akademi Berbagi, merupakan gerakan sosial edukasi berbasis volunteering yang dibentuk untuk membantu mengembangkan kualitas masyarakat  Indonesia.  Kegiatan rutin Akademi Berbagi diwujudkan dengan adanya kelas-kelas gratis dengan tema tertentu yang mengarah pada pengembangan softskill. Kelas ditujukan kepada siapapun yang ingin belajar, dan diselenggarakan di berbagai tempat. Melalui Akademi Berbagi, masyarakat dapat belajar secara gratis sehingga mampu meningkatkan kualitas serta kemandirian baik secara pribadi maupun kelompok. Kini, virus positif Akademi Berbagi yang sebelumnya muncul di Jakarta, telah menyebar ke berbagai kota serta provinsi di Indonesia. Perjalanan Akademi Berbagi sejak awal hingga saat ini telah dituangkan ke dalam sebuah buku berjudul “KELAS” oleh pendiri Akademi Berbagi, yakni Ainun Chomsun. Berikut sedikit cuplikan dari buku “KELAS” tersebut.

Cover Buku "KELAS"

Serambi

(…….) Begitulah seharusnya sebuah tempat belajar. Semua orang boleh datang, belajar dalam suasana menyenangkan, dan mendapatkan ilmu dengan hati gembira. Tidak ada paksaan, pun pembatasan siapa yang boleh hadir. Namun kini, tempat belajar identik dengan sekolah. Dan, sekolah identik dengan bangunan kokoh, bahkan gedung berpagar tinggi dan tertutup rapat. Seolah terpisah dengan dunia luar, dunia nyata. Seolah institusi pendidikan tidak memiliki keterkaitan dengan dunia luar. Tak heran, ada bagian yang terputus antara dunia pendidikan dan dunia nyata. Banyak orang yang telah menyelesaikan pendidikan, masih diliputi kebingungan akan berkarya di mana dan di bidang apa. Padahal waktu dan biaya yang telah diinvestasikan selama menempuh pendidikan dari SD hingga perguruan tinggi tidaklah sedikit.
Kondisi masyarakat yang semakin kompetitif, secara tidak langsung berakibat pada biaya pendidikan yang semakin mahal dan materi pengajaran yang semakin berat. Sekolah berangsur-angsur berubah bukan lagi sebuah “taman” yang menyenangkan bagi semua orang. Sekolah dengan kualitas yang baik sering kali diiringi biaya yang semakin tinggi. Belum lagi soal materi yang semakin banyak, membuat kurikulum disusun tanpa memperhatikan aspek keberagaman kemampuan anak didik. Tuntutan untuk berprestasi di segala bidang, menjadikan pendidikan layaknya mesin—bukan “taman” belajar lagi. Banyak orangtua yang terjebak pada angka untuk mengukur prestasi anak.
Penyeragaman materi dalam dunia pendidikan dilakukan untuk mempermudah pengukuran atas keberhasilan. Namun demikian, ketika anak didik terjun dalam masyarakat,
apakah pengukuran tersebut akan valid? Kita lupa bahwa setiap manusia itu unik, dan pendidikan bukanlah soal ijazah dan angka semata, tetapi juga meliputi keterampilan sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan manusia lain. Belum lagi soal ilmu yang terus berkembang dengan cepat. Teori yang dulu diyakini benar, bisa jadi gugur dengan hadirnya teori baru. Pendidikan semakin tergopoh-gopoh mengejar semua ketertinggalannya, sehingga anak-anak menjadi korban karena mereka harus mengikuti berbagai macam pelajaran tambahan melalui les dan kursus. Apakah pendidikan semacam itu yang diimpikan oleh Ki Hadjar Dewantara?
Kegelisahan saya pada carut-marut dunia pendidikan di Indonesia, padahal pendidikan adalah hak semua warga negara dan bagian penting bagi kemajuan peradaban manusia, membuat ide mengenai Akademi Berbagi (Akber) lahir. Dunia media sosial yang membuat saya terhubung dengan banyak orang, termasuk orang-orang hebat, membuat saya berinisiatif untuk mengadakan kelas gratis belajar bersama para praktisi dan tokoh-tokoh hebat sehingga kita tidak hanya mendapatkan ilmu formal, tetapi juga pengalaman dan wawasan nyata. Selain sebagai tempat belajar yang terbuka, Akber juga mencoba menjembatani jurang antara dunia pendidikan dan dunia karya, paling tidak sebelum seseorang menyelesaikan pendidikan formal, mereka telah memiliki bayangan bagaimana karya nyata itu dan akan berkarya di bidang apa. Sebuah ide sederhana untuk mempermudah akses belajar dan terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar. Sebuah gerakan kecil untuk membuat perubahan yang tidak diduga sedari awal akan bergulir menjadi besar dan menyebar.
Akber dikelola oleh para relawan, dan mereka bekerja tanpa bayaran dalam mengelola kelas-kelas gratis secara rutin. Guru-guru yang mengajar tidak dibayar dan kelas pun berpindah-pindah tergantung di mana kami memperoleh pinjaman tempat—karena pada dasarnya dalam proses belajar itu yang terpenting adalah guru dan murid, maka tempat belajar bisa di mana saja. Kita tidak perlu terjebak dalam paradigma bahwa ilmu yang bermanfaat harus dibagikan di ruang-ruang kelas dengan tembok kokoh dan pagar tinggi. Ilmu bisa dibagikan di ruang tamu, ruang pertemuan, pendopo kelurahan, atau bahkan di tepi pantai.
Ainun Chomsun @ainunchomsun
Digital Cummunication Strategist
Founder Akademi Berbagi
 
Profil Penulis Buku "KELAS"


                Konsep mengenai kewajiban belajar dan berbagi untuk membangun bangsa didukung oleh berbagai pihak, salah satunya oleh Robby Muhamad.  Berikut ini cuplikan ulasan dari Robby Muhamad selaku  Advisor mengenai Akademi Berbagi.

(….) Akademi Berbagi didirikan dengan dua nilai utama. Akademi Berbagi percaya akan keutamaan berbagi secara sukarela dan kemuliaan belajar. Belajar dan berbagi adalah dua pilar utama untuk masyarakat demokratis. Hidup dalam masyarakat demokratis artinya nasib setiap orang ada pada tangannya sendiri. Pemerintah dipilih oleh rakyat dan menjadi pelayan rakyat. Bangsa demokratis yang sehat bukan hanya ditentukan oleh pemerintahnya yang menyadari betul perannya sebagai pelayan rakyat, tapi juga rakyat yang tahu apa yang diinginkannya dan bagaimana cara mencapainya. Rakyat memilih pelayan yang dianggap paling mampu mencapai keinginan mereka. Singkatnya, diperlukan rakyat yang terus-menerus belajar. Belajar agar mengenal tujuan hidup masing-masing dan cara-cara untuk mencapainya.
Namun, belajar saja tidak cukup. Karena yang dicari bukanlah semata-mata kesuksesan individu, melainkan kesuksesan kita sebagai suatu kolektif: sebagai masyarakat dan bangsa. Dasar utama dalam membangun kekuatan kolektif adalah berbagi. Banyak cara dalam berbagi. Bisa berbagi atas dasar pertukaran sumber daya sebagaimana transaksi
ekonomi. Bisa juga berbagi berdasarkan kesamaan dan kepercayaan idealisme.
Di tengah gempuran yang berusaha menjadikan warga negara menjadi konsumen, berbagi menjadi transaksi. Akademi Berbagi menjadi obor harapan bahwa masyarakat Indonesia bukan hanya hebat dalam konsumsi atau berdagang, tetapi juga mampu bertindak berdasar idealisme dan harapan.
Semoga Akademi Berbagi dapat terus menjadi garda terdepan dalam menghasilkan manusia Indonesia yang terus belajar dan berbagi karena kita masih percaya akan harapan.

Roby Muhamad @robymuhamad
Scientist, entrepreneur, and writer.
Advisor Akademi Berbagi
Co-founder AkonLabs, Provetic, Yogrt


Ulasan lengkap mengenai perjalanan Akademi Berbagi dapat Anda baca dalam buku “KELAS”, dengan spesifikasi sebagai berikut:
judul                   : Kelas
penulis               : Ainun Chomsun
harga                  : Rp 55.000,-
tebal halaman    : 264
ukuran               : 13 x 19 cm

Sebagai informasi, seluruh royalti atas penjualan buku “KELAS” akan disumbangkan untuk mendukung kegiatan Akademi Berbagi, yakni memfasilitasi keberlangsungan kelas-kelas belajar gratis untuk masyarakat Indonesia.  Bagi Anda yang berminat untuk membeli buku “KELAS” dapat melakukan pemesanan dengan mekanisme sebagai berikut:
1.       Pemesanan dapat dilakukan dengan mengirim pesan WA/SMS dengan format ketik:
KELAS (spasi) JUMLAH BUKU YANG DIPESAN (spasi) NAMA PEMESAN (spasi) ALAMAT
Contoh:
KELAS 1 ILMI KURIPAN LOR GANG 6 PEKALONGAN
Kirim ke: 085728109500
2.       Agen akan mengkonfirmasi status pemesanan dan mengirimkan no rekening untuk transfer pembayaran buku. 
3.      Pengambilan buku dapat dilakukan secara langsung (saat kelas Akber) atau dikirim ke alamat pemesan.
4.      Harga buku belum termasuk ongkos kirim.

Adapun bagi Anda yang menginginkan gambaran lebih lanjut mengenai buku “KELAS”, kami dapat mengirimkan isi Bab I dari buku tersebut ke email Anda, silahkan email ke: ilmidianasrini@gmail.com .

Kamis, 10 September 2015

Berbagi tidak harus berupa materi (uang), bukan?



Saya  yakin, setiap hati kecil makluk Tuhan pasti memiliki rasa ingin berbagi, bermanfaat untuk makhluk lainnya. Terutama manusia, mereka punya hati nurani, seberapa jahat pun mereka menurut orang lain. Saya pun demikian, mampu berbagi & bermanfaat adalah impian yang selalu menjadi bayang-bayang dalam setiap langkah hidup.

Banyak orang berpendapat bahwa kita baru mampu berbagi ketika kita sudah mapan dan lebih dari cukup secara material. Bagi mereka, berbagi adalah memberikan sesuatu berwujud barang atau uang sehingga mengurangi beban orang lain secara materi. Awalnya Saya setuju, banyak disekitar kita yang membutuhkan bantuan secara materi. Tapi, kapan Saya mampu berbagi jika harus mapan dan berlimpahan? Sedangkan kita tahu, kata mapan dan berlimpahan ini sulit ditafsirkan secara objektif. Dan ketika harus menunggu mapan secara financial, terlalu lama waktu yang terbuang. Sedangkan Saya pun tidak tahu kapan Tuhan menjemput Saya untuk kembali pada-Nya. Saya mulai berfikir, bagaimana caranya Saya bermanfaat dan mampu untuk berbagi sesuatu dari diri Saya tanpa harus berupa materi?

Pada saat yang tepat, Tuhan mempertemukan Saya dengan “Akademi Berbagi” yang satu visi dengan impian Saya, berbagi tidak harus berupa materi. Masih banyak hal yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar kita, salah satunya “wawasan”. Wawasan yang luas serta softskill yang aplikatif sangat diperlukan oleh masyarakat Indonesia untuk menumbuhkan kemandirian, sehingga masyarakat dapat me”mampu”kan diri mereka baik secara financial maupun pengetahuan. Tentu Saya sadar bahwa Saya belum mampu untuk berbagi wawasan yang Saya miliki, justru Saya masih perlu ditempa. Namun Saya mampu berusaha memfasilitasi masyarakat untuk memperoleh ilmu, wawasan, softskill dari sumber yang mumpuni. Mampu berusaha memfasilitasi para tokoh/pakar/praktisi untuk berbagi ilmu, wawasan, softskill yang mereka miliki untuk masyarakat, karena mereka pun pasti ingin berbagi. Ya, bersama “Akademi Berbagi” kami mampu memfasilitasi mereka, karena Kami mau.



Melalui Akber Pekalongan, kami berusaha menjembatani para tokoh/pakar/paktisi serta masyarakat untuk transfer ilmu, wawasan, softskill melalui kelas pertemuan yang kami selenggarakan sekurang kurangnya satu kali dalam sebulan. Tema yang diangkat pun beragam, dan ditekankan kepada softskill yang mampu diaplikasikan langsung oleh para Akberians (peserta kelas) dalam kehidupan nyata. Akber Pekalongan, sebagai asociate dari Akademi Berbagi Foundation merupakan gerakan sosial edukasi berbasis volunteering yang dibentuk untuk membantu mengembangkan kualitas masyarakat Kota Pekalongan. Dalam menjalankan kegiatannya, Akber Pekalongan selalu memegang teguh visi Akademi Berbagi, yakni “Sharing-Volunteering-Networking”, membangun manusia Indonesia berkualitas melalui pembelajaran, kesukarelawanan, dan jaringan dengan gembira. Sesuai dengan slogan Akademi Berbagi, yakni “Berbagi Bikin Happy!”, Akber Pekalongan selalu menyelenggarakan kegiatannya dengan gembira. Segala sesuatu yang dilakukan dengan gembira diharapkan mampu menumbuhkan ketulusan serta dapat terlaksana secara optimal.

Ketersediaan volunteer atau relawan yang tulus dan berkualitas menjadi hal yang penting dalam menjalankan kegiatan Akber Pekalongan. Yang dimaksud dengan volunteer/relawan adalah orang yang secara suka rela menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran, keahlian atau apapun yang ia miliki untuk menolong orang lain dan sadar bahwa tidak akan mendapatkan upah atau gaji atas apa yang telah disumbangkan. Siapapun dapat bergabung sebagai relawan Akber Pekalongan, tanpa dibatasi oleh usia, profesi, status, dan lain sebagainya. Relawan Akber Pekalongan ada beberapa jenis, antara lain relawan guru, yakni orang yang mau berbagi ilmu pengetahuan/wawasannya secara cuma-cuma kepada masyarakat Pekalongan melalui kelas Akber Pekalongan. Relawan pelaksana, yakni orang yang mau meluangkan waktu, fikiran serta tenaganya untuk merencanakan, mengatur, serta mengontrol kegiatan Akber Pekalongan. Relawan pendukung, yakni orang yang dengan tulus memberikan apapun yang ia miliki sebagai fasilitas terlaksananya kegiatan Akber Pekalongan, baik menyediakan tempat untuk kelas, memberikan snack untuk para peserta secara cuma-cuma, turut mempublikasikan info kelas kepada masyarakat, atau apapun yang berfungsi mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan Akber Pekalongan.

Saya bahagia telah mendapat kesempatan menjadi bagian dari Akber Pekalongan. Bersama rekan-rekan relawan yang baik serta tulus Kami mampu mewujudkan impian Kami untuk berbagi. Menyelenggarakan kelas-kelas gratis dengan tema yang aplikatif untuk masyarakat Pekalongan. Bertemu dengan para ahli serta praktisi hebat yang dengan tulus mau membagi ilmunya secara cuma-cuma kepada orang lain. Memang, sedikit yang kami lakukan, namun kami berharap kelas Akber Pekalongan mampu membangun masyarakat Pekalongan menjadi SDM yang berkualitas serta mampu bersaing. Menjadi relawan Akber Pekalongan membuat diri Kami selalu berkembang, baik secara wawasan maupun kepribadian. Berkumpul dengan orang-orang positif membuat saya semakin bersemangat dalam menjalani hari serta memperbaiki diri dan membuat diri Saya selalu berusaha untuk rendah hati. Terimakasih Akber Pekalongan & Akademi Berbagi. #BerbagiBikinHappy! 


By : @ilmidian

Jumat, 04 September 2015

Menikah untuk Bahagia! Sudah Punya Bekal? ;)


Pernikahan bukan hanya sekedar penyelesaian tugas perkembangan seorang dewasa. Jauh lebih besar daripada itu, pernikahan merupakan sebuah komitmen besar yang mempertaruhkan seluruh kehidupan tiap pasangan. Bagaimana tidak, kita harus merelakan diri kita untuk menjalani setiap jengkal waktu dan kesempatan bersama pasangan kita. Hal ini tidak berarti kita harus selalu bersama-sama setiap detik dengan pasangan kita, namun apapun yang kita lakukan dalam tiap detik kita adalah untuk keluarga, dalam hal ini adalah pasangan serta anak. Setiap pasangan harus mampu menanggalkan keegoisannya demi kehidupan yang harmonis dalam keluarganya. Hal ini tentu menuntut kedewasaan yang hakiki dari tiap pasangan, baik secara fisik maupun psikis. Belum tentu setiap orang mampu mencapainya meski di usia yang telah matang, karena tua itu pasti, sedangkan dewasa adalah pilihan.
Hampir setiap orang mengharapkan kebahagiaan serta kelanggengan dalam pernikahan mereka. Namun dalam kenyataannya bukan hal mudah untuk mencapai hal tersebut, karena pernikahan menuntut adanya penyesuaian diri terhadap peran dan tanggungjawab baru dari kedua pasangan. Terlebih bagi pasangan muda, ketidakmampuan melakukan penyesuaian diri terhadap peran dan tanggungjawab baru sering menyebabkan pertentangan, dan bahkan berakhir dengan perceraian.  Namun demikian bukan berarti pasangan muda tidak mampu mencapai kebahagiaan serta kelanggengan dalam pernikahannya. Keberhasilan pernikahan dapat dicapai salah satunya dengan ilmu serta wawasan tentang kehidupan berumah tangga, baik tentang peran suami dan istri hingga bagaimana manajemen keluarga yang baik. Kedua pasangan harus menyadari bahwa Ilmu serta wawasan tentang pernikahan serta kehidupan berumah tangga sangat diperlukan dalam sebuah pernikahan, bahkan sebelum mereka menikah.
Dalam tulisan ini, Saya akan sedikit berbagi mengenai hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk menuju pernikahan yang bahagia serta langgeng. Menurut  Mbak Anita Rakhmawaty, M.Psi yang merupakan psikolog RS Bendan Pekalongan (dalam sharingnya di salah satu Kelas Akber Pekalongan) beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam pernikahan antara lain:

1. Kejelasan Tujuan
Setiap pasangan harus memiliki kesepakatan mengenai tujuan mereka menikah. Pada umumnya mereka hanya menyatakan bahwa tujuan mereka menikah adalah untuk bahagia. Namun jarang dari mereka mampu menguraikan “bahagia yang seperti apa yang mereka inginkan?”. Tujuan perlu diutarakan secara spesifik agar mampu untuk diukur pencapaian keberhasilannya, bahkan dilengkapi dengan langkah untuk mencapainya. Masing-masing pasangan perlu untuk merumuskannya bersama sehingga dalam langkah serta pengambilan keputusan berikutnya akan lebih terarah serta sesuai dengan harapan masing-masing pasangan.
2. Knowledge & Skill
Hal yang dilakukan tanpa adanya dasar ilmu pengetahuan akan menjadi hal yang sia-sia. Oleh karena itu, pengetahuan serta wawasan tentang pernikahan serta kehidupan berumahtangga sangat diperlukan sebagai bekal mewujudkan keberhasilan pernikahan. Pengetahuan yang diperlukan diantaranya adalah mengenai kepribadian laki-laki dan kepribadian wanita, teknik berkomunikasi yang baik, kehidupan pernikahan, peran suami dan istri, manajemen keluarga, serta pengetahuan pendukung lainnya. Ilmu dan pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui buku, seminar pra-nikah, artikel, sharing dengan orang lain, dsb.
3. Komitmen
Pernikahan memerlukan komitmen yang kuat antara dua pasangan. Hidup bersama bukan hanya sekedar tinggal seatap berdua. Lebih dari itu, masing-masing pasangan perlu untuk saling membuka diri, memahami pasangannya, memberikan kepercayaan dan saling percaya, serta mau untuk saling memperbaiki diri.
4. Perlengkapan Kehidupan Rumah Tangga
Memulai untuk hidup berdua sebagai sebuah keluarga tentu menuntut kita untuk hidup lebih mandiri. Perlengkapan rumah tangga seperti halnya tempat tinggal, perabot rumah tangga, serta perlengkapan lainnya perlu dipersiapkan. Akan lebih baik jika pasangan tinggal berdua secara mandiri tanpa bergantung kepada keluarga suami maupun istri. Tidak berarti harus langsung memiliki rumah sendiri, keluarga baru bisa saja mengontrak rumah atau kos. Dengan hidup mandiri maka masing-masing pasangan akan dapat belajar lebih banyak hal sehingga mampu berkembang menjadi keluarga yang lebih baik.

Demikian beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk menuju pernikahan yang bahagia serta langgeng. Semoga memberikan manfaat bagi penulis serta para pembaca dan mampu diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Terimakasih. J

By: @ilmidian

Jumat, 29 November 2013

Solo : Saksi Keharmonisan Pemuda Indonesia-Malaysia


Solo, kata yang enak didengar dan  dilafalkan. Sesuai dengan namanya, kota ini pun sangat menarik untuk dikunjungi. Berbagai jenis wisata tersedia di dalam dan di sekitar kota ini. Baik wisata edukasi, budaya, sejarah, alam, bahkan event nasional maupun internasional seringkali diselenggarakan di kota ini. Oleh karena itulah Solo menjadi lokasi yang pas untuk dijadikan tempat pertemuan serta pelancongan.
Sedikit bercerita tentang pengalamanku bersama rekan-rekan Koperasi Mahasiswa UNS, kami beberapa kali membantu rekan-rekan kami dari Malaysia dalam menghabiskan waktu liburannya di Solo. Sejak tahun 2010 hingga 2013, kami menyelenggarakan event tahunan kelas internasional, yakni workshop cooperative and entrepreneurship. Workshop cooperative and enterpreneurship tersebut sebanyak tiga kali bersama rekan-rekan Koperasi Siswa seluruh Malaysia yang terhimpun dalam MAKMUM (Majelis Keusahawanan Universiti-universiti Malaysia). Workshop dan magang pertama yakni ”Indonesian – Malaysian Workshop On Cooperative And Entrepreneurship” dilaksanakan pada tanggal 5-18 Desember 2010.
Pada workshop pertama kami melaksanakan workshop di Universitas Sebelas Maret Surakarta, dilanjutkan dengan kujungan dan magang usaha di KOPMA UNS, Boutique Bilqist, SOLOPOS, CV. Rimba Sentosa, BPR Artha Sari Sentosa serta Lujito Glass and Craft. Pembukaan  kegiatan dilaksanakan dengan persembahan budaya sendra tari “Mahabarata” oleh rekan-rekan BKKT UNS. Kegiatan wisata budaya dan belanja dilaksanakan dengan mengunjungi kampung batik kauman Solo, candi Prambanan, Masjid Agung Solo, Pasar Klewer serta PGS. Kegiatan wisata alam dilaksanakan dengan mengunjungi Lembah Hijau Multifarm. Kegiatan Workshop I memang lebih berfokus pada workshop serta magang usaha, sehingga kesempatan untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata dirasa kurang. Oleh karena itu, di lain kesempatan sebagian peserta datang kembali dengan ke Solo untuk menikmati keindahan Solo bersama keluarga maupun sahabat.

Sendra Tari dalam Malam Pembukaan
Kunjungan ke Kampung Batik Kauman Solo
Kunjungan ke Lembah Hijau Multifarm

Menikmati Bakso Ikan Patin di LHM



Kampung Batik Kauman Solo
Wisata Budaya di Candi Prambanan














































































Workshop kedua yakni International Workshop Creative Technology (Pembuatan Film) & Internship” diselenggarkan  pada 24-29 Juli 2011.  Melalui kegiatan ini peserta dilatih untuk membuat film pendek, baik iklan, drama pendek maupun video klip. Kegiatan dilaksanakan di Cakra Homestay Solo dengan suasana yang sangat mencerminkan Solo dan budayanya, yakni di sekitar kampung batik kauman. Selain workshop, peserta juga diajak untuk mengunjungi lokasi usaha di Solo, antara lain Rujito Glass and Craft (Sentra Industri Kerajinan Kaca), Lembah Hijau Multifarm (LHM) dan Kantor Redaksi Joglosemar Solo.  Panitia mengalokasikan satu hari untuk bebas berkunjung ke berbagai lokasi wisata maupun belanja bagi para peserta.  Hari itu tidak disia-siakan oleh peserta. Mereka dengan antusias mengunjungi sentra produksi batik, ke pusat belanja  (Klewer, PGS, Beteng), serta jalan-jalan keliling kota Solo.

Proses Pembuatan Film di Cakra Homestay

Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia & Malaysia

Proses Editing Film Pendek

Pemutaran Film Karya Peserta Workshop




Sedangkan workshop ketiga yakni 3rd Indonesian-Malaysian Workshop “Mengembangankan Koperasi Guna Mendukung Ekonomi Kreatif” pada 19 – 23 Januari 2013. Kegiatan meliputi workshop serta kunjungan usaha, wisata belanja, wisata budaya, serta wisata alam. Workshop dilaksanakan di UNS, dilanjutkan kunjungan usaha ke Rosalia Indah Group, Joglosemar serta Lembah Hijau Multifarm. Kegiatan wisata budaya dilaksanakan dengan menyaksikan pertunjukan wayang orang di Sriwedari, mengunjungi event adat “Sekaten” Solo, serta keliling kota Solo menggunakan bus Werkudara, mulai dari UNS, Keraton Solo, serta lokasi-lokasi penting dan bersejarah di Solo. Wisata belanja dilaksanakan dengan mengunjungi Klewer, PGS, Beteng, dan Solo Grandmall. Sedangkan wisata alam dilaksanakan dengan kegiatan outbond di Agrowisata Amanah.


Belanja di Pusat Grosir Solo (PGS)
Bersiap untuk Keliling Solo Bersama Werkudara

Kunjungan di Rosalia Indah

Mengunjungi Pameran Benda Pusaka Keraton Solo

Menuju Sriwedari Solo

Menyaksikan Wayang Orang Sriwedari

Pameran Benda Pusaka Keraton Solo

Workshop Indonesia-Malaysia











































































































 






































































Ketiga workshop tersebut dilaksanakan di Solo dan sekitarnya. Dengan dilaksanakannya workshop cooperative and enterpreneurship secara rutin tersebut, diharapkan mampu mengembangkan sumber daya manusia Indonesia serta Malaysia khususnya dibidang koperasi dan wirausaha. Selain itu, workshop tersebut menjadi sarana pemersatu para pemuda Indonesia-Malaysia dengan harapan dapat meminimalisir pandangan-pandangan negatif mengenai  hubungan antar kedua negara ini. Dengan demikian diharapkan hubungan baik antara Indonesia-Malaysia dapat terjaga dan dikembangkan ke arah yang lebih positif.
Kesan para peserta yang berasal dari berbagai negeri di Malaysia terhadap Solo sangatlah positif. Mereka merasa terkesan dengan berbagai destinasi di Solo, baik Keraton, museum, kampung batik, pusat belanja seperti halnya PGS, Beteng, dan Klewer. Pengalaman berkesan mereka di Solo membuat mereka selalu ingin kembali melancong ke Solo lagi. Beberapa dari mereka kembali datang ke Solo bersama dengan keluarga maupun teman, bahkan ada yang sendiri, untuk berlibur maupun bisnis. Daya tarik Solo membuat Solo pantas untuk menjadi tujuan utama dalam berlibur dan memperluas wawasan budaya maupun bisnis.   Daya tarik Solo ini perlu terus dikembangkan dengan pelayanan optimal terhadap para wisatawan sehingga mampu meningkatkan pendapatan devisa.

Beberapa komentar rekan Malaysia yang berkunjung ke Solo:
“Solo is a great place to visit its remaining to the jawa spririts and lota of great entrepreneurs from solo are very successful such as entrepreneurs of furniture and many more.. for me.. solo is good place to visit. Ti have workshop and is a great place to study. As long as solo keep the tradition of jawa spirit. .” (Fahimi Sofian, Mahasiswa S2 jurusan Master in entrepreneurship and innovation di Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi-Malaysia)
“Solo... Kenangan yg manis sbb jmpa arief, ilmi dan nana.. Rasa memang nk ke solo lagi sebab hari tu rasa sekejap sangat. Solo .. Best sbb banyak batik rekaan solo dan jalan raya tidak sesak..”(Ina Zalina, Guar Chempedak-Malaysia)

Rabu, 13 November 2013

41 Kata Mutiara Penuh Motivasi



Share slide motivasi "41 kata mutiara" yang dibuat oleh temen-temen BK UNS 2009 ...

Semoga menyemangati & menginspirasi :)


Senin, 11 November 2013

Karena ke-“AKU”-anmu adalah “BOM WAKTU”





Awalnya semua terlihat baik-baik saja. Hari demi hari, kau rasakan bahwa satu per satu orang mulai bertindak tidak cerdas. Bahkan menurutmu mereka berbuat kesalahan yang fatal. Kau merasa bahwa semuanya tidak baik lagi karena tindakan-tindakan bodoh orang-orang disekelilingmu. Dan lambat laun, kau merasa bahwa kaulah yang paling benar dan kau telah berbuat banyak untuk mereka tanpa bantuan siapapun. Langkah demi langkah kau selalu merasa bahwa kau benar, dan orang lain salah. Kau berkorban, dan orang lain tidak. Kau hebat, dan orang lain bertindak bodoh, seakan-akan menghalangi ke-“hebat”anmu.
Berhati-hatilah, karena mulai saat itu “bom waktu” telah tumbuh dihatimu. Membuat yang lunak menjadi keras. Membuat yang bersih menjadi kotor. Membuat yang ramah menjadi pemarah. Dan perlahan-lahan, bom waktu itu pun meledak meluluh lantakkanmu. Mungkin, tidak akan ada lagi yang tersisa. Atau mungkin, kau baru akan menyadari bahwa selama ini kau memelihara “bom waktu” untuk menghancurkan dirimu sendiri. Kau baru menyadarinya setelah semua orang pergi, semua keramahan lingkungan hilang dari sisimu.  “Bom waktu” itu mereka kenal dengan kata “kesombongan”.

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)
                                                                                                          

Tidak ada satupun agama maupun adat yang mengajarkan untuk memelihara kesombongan. Lalu mengapa ia masih saja mampu tumbuh di hati-hati manusia? Karena manusia seringkali tidak menyadari telah memeliharanya. Memelihara hasrat mengagungkan dirinya sendiri dan merendahkan orang lain. Kesombongan selalu datang tanpa permisi kepada siapapun. Si kaya ataupun si miskin, orang ber-IQ tinggi ataupun ber-IQ rendah, orang beragama maupun tak beragama, siapapun…siapapun…siapapun yang hatinya kotor. Maka, hatilah kuncinya. Hati bersih yang mampu mencegah  “bom waktu” itu tumbuh dan berkembang. Dan hati bersih itu tebentuk dalam diri manusia-manusia yang dekat dengan Tuhannya. Semoga Tuhan segera menyembuhkan dan membersihkan hati-hati kita. Merengkuh kita dalam cinta kasih dan membantu kita untuk menjadi manusia-manusia dengan kerendahan hati.

“Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari sifat malas dan kesombongan.  Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari siksaan api neraka.


Catatan: tulisan ini tidak menjurus kepada siapapun, hanya sekedar berbagi dan sebagai media untuk saling mengingatkan, terutama mengingatkan diri sendiri.